Upaya Pemerintah Untuk Memperbaiki Mutu Pendidikan Melalui Program Pendidikan Kesetaraan (Paket C)

Ungkapan pribadi

 

 

Bukan hal yang mudah bagi saya untuk menyesaikan tugas Bahasa Indonesia ini.Banyak rintangan yang harus saya alami.Apalagi dalam waktu yang bersamaan,bukan hanya tugas ini yang harus saya kerjakan.Namun sedikit demi sedikit,semua tugas itu terselesaikan.Karena jika hanya dipikir dan direnungi tugas-tugas ini tidak akan selesaikan.Maka dari itu,saya menyeselaikannya perlahan,satu persatu dan akhirnya sempurna.Itu yang saya rasa.

 

Tugas Bahasa Indonesia ini menyenangkan setelah saya nikmati.Saya mengenal lebih banyak orang karena tugas ini.Mampu berkomunikasi dengan orang-orang yang belum saya kenal sebelumnya adalah pengalaman menarik yang saya peroleh selama mengerjakan tugas ini.Saya juga dituntut lebih sabar karena tidak semua orang atau narasumber bersikap ramah dan baik terhadap saya.Namun bukan berarti saya lantas mundur,saya terus berusaha dan yakin bahwa semua ini bisa dilewati.

 

Ungkapan terima kasih dan syukur yang mendalam kepada Allah SWT karena atas izin-Nya semua yang saya butuhkan untuk menyelesaikan tugas ini bisa saya dapatkan.Juga kepada narasumber yang telah memberikan informasi tentang masalah yang saya angkat disini.Dan tak lupa juga kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung saya untuk mengerjakan tugas ini sehingga selesai tepat pada waktunya dan dengan hasil yang cukup memuaskan.

Terima kasih.

 

Penulis

Eriko Istiawan

ii

Kata Pengantar

 

Segala puji bagi Allah SWT atas limpahan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia ini.Saya berusaha menyeselaikan tugas ini dengan sebaik mungkin agar mudah dipahami oleh pembaca.Untuk maksud tersebut,saya berusaha menjabarkan setiap masalah dengan sedetail mungkin.

 

Dalam tugas ini saya akan mengupas dan menjelaskan tentang apa itu Program Pendidikan Kesetaraan dan bagaimana perjalanan panjang adanya program tersebut serta lika-likunya.Karena sebuah kata sukses tidak akan datang secara tiba-tiba namun butuh perjuangan keras untuk mencapainya.Begitu pula dengan Program Pendidikan Kesetaraan Paket C ini.Banyak rintangan dan hambatangnya,namun tetap berusaha demi yang terbaik

 

Dengan tugas Bahasa Indonesia ini,saya berharap mampu mengubah pemikiran atau pandangan sebelah mata sebagian besar masyarakat tentang Program Pendidikan Kesetaraan yang saya bahas kali ini khususnya paket C.Karena hingga saat ini Program Pendidikan Kesetaraan Paket C belum bisa dikatakan sukses.Warga belajarnya belum bisa merasa setara dengan siswa-siswa yang bersekolah di pendidikan formal.Perusahaan-perusahaan masih memprioritaskan tamatan SMU/SMK untuk bekerja begitu pula dengan universitas-universitas yang juga memprioritaskan tamatan sekolah formal.

 

Akhirnya saya mengucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selesainya tugas ini.Saya mengharap kritik dan saran untuk perbaikan tugas-tugas saya selanjutnya.

Terima kasih.

Batu,Januari 2011

Penulis

iii

Daftar Isi

 

Lembar Judul ………………………………………………………………………………i

Ungkapan Pribadi …………………………………………………………………………ii

Kata Pengantar …………………………………………….…….…..…………………….iii

Daftar Isi ………………………………………………………….………………………iv

Bab I : Pendahuluan

A. Latar Belakang ………………………………………..………………………..1

B. Tujuan Masalah ……………………………………………….………………..2

C. Rumusan Masalah ……….………………………………….…………………3

D. Batasan Istilah ……….…………………………………….…………………..4

Bab II : Pembahasan Orang yang Mengikuti Sekolah Paket C

A. Pengertian dan Fungsi Sekolah Paket C ……..………………………………..5

B. Kedudukan dan Kegunaan Sekolah Paket C …………………………….…….6

C. Mengapa Orang Mengikuti Sekolah Paket C ………………………….………7

D. Faktor Internal dan Eksternal Mengapa Orang Mengikuti Sekolah Paket C…..8

E. Bagan/Statistik Orang yang Mengikuti Sekolah Paket C …..…….……………9

F. Kebijakan Pemerintah dalam Sekolah Paket C ………………………………10

F.a. pasal 28 huruf c ……………….……………………………………..10

F.b. pasal 28 huruf e ………………………………………….………….10

F.c. pasal 31 UUD 1945 ………………………………………….………10

Bab III : Metode

  1. Metode Pengumpulan Data ..…………………………….…………………..12

  2. Tempat Data Berasal ..………………………….……………………………12

  3. Pembahasan ..…………………………….…………………………………..15

Bab IV : Penutup

A. Kesimpulan …..………………………………………………………………17

B. Saran …………………………………………………………………………18

Daftar Pustaka ….……………………………………………………………………….19

Lampiran-Lampiran ……………………………………………………………………..20

iv

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

 

Pendidikan adalah salah satu syarat mutlak bagi suatu negara untuk bisa dinilai maju dan berkembang.Karena negara yang maju dapat dinilai dari segi ekonomi masyarakatnya yang tinggi,sedangkan ekonomi yang tinggi dapat diperoleh jika pendidikan masyarakatnya baik.Jadi antara pendidikan dan ekonomi sangat berkesinambungan dalam memperbaiki kemajuan suatu negara.

 

Karena itulah pemerintah menjalankan Program Pendidikan Wajib Belajar 9 tahun.Namun belum berjalan optimal karena banyak masyarakat yang usianya telah melewati usia sekolah namun ternyata hanya tamatan SD bahkan tidak sedikit pula yang tidak tamat SD.Maka dari itulah muncul kebijakan baru dari pemerintah yaitu dengan mengadakan Program Pendidikan Kesetaraan yang diharap mampu memberikan kesempatan bagi masyarakat yang belum tamat SD atau hanya tamatan SD dan SMP saja.

 

Dalam kesempatan kali ini saya akan membahas tentang Program Pendidikan Kesetaraan tersebut khususnya paket C yang setara SMU dengan harapan bisa memberikan kesadaran bagi masyarakat bahwa paket C juga adalah sekolah yang diterima dan legal dimata pemerintahan.Sekolah paket C ini didirikan bagi warganya yang telah berusia 18tahun keatas dan tamat SMP atau Paket B sebelumnya.Juga diperuntukkan bagi siswa-siswi SMU yang putus sekolah karena berbagai alasan.Tidak lulus ujian nasional misalnya atau karena tidak mampu membayar pendidikan SMU yang dinilai sangat tinggi sehingga siswa tersebut memilih paket C yang biayanya jauh lebih terjangkau.

 

1

B. Tujuan Masalah

 

 

Tujuan utama dari Program Pendidikan Kesetaraan Paket C ini adalah untuk menberikan kesadaran dan pengertian bagi warga belajar atau peserta didiknya tentang pentingnya pendidikan bagi kehidupan mereka.Karena tanpa pendidikan,masyarakat dengan usaha yang paling kecil sekalipun tidak akan bisa menghitung untung rugi dari usaha mereka dan yang paling menghawatirkan adalah jika suatu saat mereka akan ditipu oleh orang pandai lainnya.Maka dari itu diadakannya Program Pendidikan Kesetaraan Paket C ini agar masyarakat memiliki pendidikan sebagai modal hidup walaupun yang paling mendasar.

 

 

Disamping tujuan tersebut tentu ada tujuan-tujaun lainnya yaitu membebaskan masyarakatnya dari buta huruf.Karena siapa saja yang buta huruf sudah pasti hidupnya akan susah karena semua hal saat ini selalu ada hubungan dengan huruf dan angka.Selain itu juga untuk mensukseskan program pemerintah sebelumnya yaitu Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9tahun.Walaupun 9tahun pembelajaran telah selesai di SMP tetapi dimasa seperti ini,tamatan SMP saja tidak mampu bersaing dan mendapat pekerjaan yang layak.Karena perusahaan-perusahaan atau tempat kerja-tempat kerja jelas akan memprioritaskan tamatan SMU dari pada SMP.Karena pengalaman pendidikan dan pengetahuan jelas tamatan SMU memiliki nilai lebih.Maka dari itu, Program Pendidikan Kesetaraan Paket C diharap mampu menjadi jalan keluar bagi permasalahan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

C. Rumusan Masalah

 

Sekolah-sekolah Paket C memang telah ada di beberapa daerah.Namun hambatan dari sekolah-sekolah tersebut tetap saja ada.PKBM Taman Krida Dewasa di daerah Punten,Batu misalnya.Perjuangan panjang bagi sekolah ini untuk tetap ada hingga saat ini.Masalah muncul dari lokasi sekolah.Karena tidak sekali PKBM Taman Krida Dewasa ini pindah lokasi sekolah dengan alasan tidak mendapat izin dari pemilik gedung sebelumnya atau istilah kasarnya diusir dari sekolah sebelumnya.Memang sekolah-sekolah paket C belum ada yang memiliki sekolah khusus yang benar-benar miliknya.Sebagian besar sekolah-sekolah Paket C masih meminjam gedung lain atau bisa dikatakan menumpang.Jelas ini adalah suatu permasalahan yang fatal bila diabaikan.

 

Kurang mengertimya masyarakat tentang Program Pendidikan Kesetaraan Paket C juga menjadi kendala berikutnya.Karena penyuluhan-penyuluhan tentang apa itu Pendidikan Kesetaraan tidak dilakukan secara intensif sehingga yang mengerti tentang Pendidikan Kesetaraan hanya sebagian kecil masyarakat yang biasanya mereka adalah suatu kelompok.Jadi akan sangat sulit bagi Pendidikan Kesetaraan Paket C untuk berkembang dan menjamah orang-orang baru jika penyuluhan tentang program ini hanya dari mulut ke mulut para warga belajarnya bukan dari pemerintah atau tenaga pendidik yang bisa lebih dipercaya dan akurat.

 

Masalah lain yang menjadi faktor penghambat bagi berkembangnya Program Pendidikan Kesetaraan Paket C ini adalah nasib dari lulusannya.Pemikiran picik masyarakat terhadap warga belajar Paket C menyebabakan para peserta didiknya merasa rugi telah mengikuti program pendidikan ini.Karena kata-kata ”Kesetaraan” tidak benar-benar berlaku bagi mereka.Ketika warga belajar sama-sama melamar pekerjaan dengan siswa SMU,sangat jelas terlihat bahwa prioritas utaa adalah siswa SMU,bukan setara seperti yang selama ini kabarkan.Dari situlah dikhawatirkan peminat sekolah Paket C akan terus berkurang dan akhirnya gagallah program pendidikan kali ini.

3

D. Batasan Istilah

 

 

Upaya Pemerintah Untuk Memperbaiki Mutu Pendidikan Melalui Program Pendidikan Kesetaraan (Paket C) disini adalah upayah pemerintah dalam membangun banggsa agar IDM negaranya bermutu walau hanya dengan sekolah non formal,namun dengan demikian tetap sama saja kwalitas dan mutu lulusan sekolah non formal dan formal ini,sekolah paket C disini adalah program pendidikan menengah pada jalur non formal stara SMA/MA bagi siapapun yang terkendala kependidikan formal atau berhemat dan memilih pendidikan kesetaraan untuk ketuntasan pendidikan menengah dengan berbagai alasan yang menharuskan untuk lulus sekolah menengah keatas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

BAB II

Pembahasan Orang yang Mengikuti Sekolah Paket C

A. Pengertian dan Fungsi Sekolah Paket C

 

Pendidikan Kesetaraan merupakan pendidikan nonformal yang mencakup program Paket A setara SD/MI, Paket B setara SMP/IMTs, dan Paket C setara SMA/MA dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional, serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional peserta didik. Setiap peserta didik yang lulus ujian kesetaraan Paket A, Paket B, atau Paket C mempunyai hak eligibilitas yang sama dan setara dengan pemegang ijazah SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA untuk dapat mendaftar pada satuan pendidikan yang lebih tinggi. Status kelulusan Paket C mempunyai hak eligibilitas yang setara dengan pendidikan formal dalam memasuki lapangan kerja. hasil pendidikan nonformal dapat sihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan (UU No 20/2003 Sisdiknas Psl 26 Ayat (6).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

B. Kedudukan dan Kegunaan Sekolah Paket C

 

Sekolah paket C memang selalu di bawah sekolah-sekolah SMA formal.Karena dilihat dan lama pendidikannya sekolah formal hingga 3 tahun,sedangkan sekolah paket C ini,2 tahun adalah masa paling lama bahkan ada yang hanya 6 bulan pembelajaran sudah bisa mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK).Sekolah Paket C ini diharapkan tidak menjadi pilihan utama bagi siswa-siswi pelajar SMU.Jika tidak ada factor-faktor yang menghalangi,lebih baik meneruskan di SMU formal.Karena pengetahuan dan pendidikan yang di peroleh tidak dapat dibandingkan dengan dari sekolah-sekolah paket C.

 

Kegunaan dari Sekolah Paket C itu sendiri sebenarnya adalah untuk masyarakat di

atas usia sekolah.Untuk mereka yang terhalang oleh beberapa factor sehingga Sekolah Paket C adalah alternatifnya.Walaupun usianya masih usia sekolah namun bila persyaratan masuk SMU tidak terpenuhi,Sekolah Paket C memang pilihan yang tepat.Karena sekolah ini betujuan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat luas tanpa membebani masyarakatnya

.

Disamping itu juga berguna untuk membangun atau membina hubungan baik dengan masyarakat lainnya.Misalnya saja dulu pergaulan seseorang terbatas pada teman satu kampong atau wilayah namun setelah mengikuti Sekolah Paket C ini,pergaulanya meluas keluar desa bahkan bukan hanya teman sebaya karena warga belajarnya berasal dari usia yang beragam.

 

 

 

 

 

 

6

C. Mengapa Orang Mengikuti Sekolah Paket C

 

Setiap orang yang melakukan sesuatu hal tentu didasari dengan sebuah alasan.Contoh paling sederhana misalanya,seseorang makan dengan alasan agar tidak lapar atau agar kuat menjalani aktifitas.Begitu pula dengan mengikuti Progam Pendidikan Kesetaraan Paket C.Alasan tiap orang belum tentu sama.

Alasan pertama adalah karena kebutuhan.Tuntutan pada suatu perusahaan misalnya.Untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,standart atau persyaratan utamanya adalah pendidikan minimal SMU/Sederajat.Dari situlah orang yang ingin menperbaiki taraf hidupnya memilih sekolah paket C agar bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya.

Disamping alasan tersebut alasan lainnya dan yang paling mendominan adalah faktor keuangan.Sekolah SMU formal dinilai sangat tinggi biayanya sehingga tidak semua calon siswanya mampu melanjutkan ke sekolah-sekolah formal tersebut dan menjadikan sekolah paket C jalan keluarnya.Memang jika dibandingkan dengan biaya sekolah formal,biaya sekolah paket C jauh lebih terjangkau dan bersifat tidak memaksa

Kesibukan seseorang yang tidak pasti juga menjadi alasan bagi seseorang mengikuti sekolah paket C ini.Kesibukan bekerja di pagi hari dan hanya memiliki waktu ruang di sore hari akhirnya membuat orang tersebut mengikuti sekolah ini.Karena sebagian besar sekolah paket C dilaksanakan pada sore hari bawkan malam hari dengan waktu yang relatif singkat.Sekitar 4-5 jam sehari.Itupun tidak 1 minggu penuh seperti sekolah formal.Juga masa pendidikan yang singkat,antara 6-24 bulan saja sudah bisa lulus dari sekolah paket C.

 

 

 

 

7

D. Faktor Internal dan Eksternal Mengapa Orang Mengikuti Sekolah Paket C

 

Ada dua faktor yang menjadi alasan bagi seseorang untuk mengikuti pendidikan kesetaraan paket C yaitu faktor internal dan faktor eksternal.Faktor internal adalah faktor yang mempengaruhi dari dalam antara lain faktor ekonomi yang kurang memadai,waktu yang sangat padat untuk bekerja juga menjadi faktor internal yang menyebabkan orang mengikuti sekolah paket C.Faktor lainnya adalah karena orang tersebut pernah bemasalah di bidang hukum senhingga sulit masuk ke sekolah formal.

Sedangkan faktor kedua adalah faktor eksternal.Faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi dari luar antara lain keadaan geografis tempat tinggalnya,misalnya suku terpencil.Karena letaknya yang jauh dan sulit dijangkau,maka pendidikan pun terhambat masuknya sehingga pada usia lanjut mereka baru mengenal pendidikan dan itu pun sekolah paket C.

Faktor eksternal lainnya adalah tuntutan atau dorongan dari pekerjaan mereka.Pada zaman dahulu,tamatan SD/SMP saja sudah bisa bekerja di tempat yang diinginkan,hanya dengan modal keahlian atau skill.Namun dimasa seperti sekarang ini,keahlian saja tidak cukup.Mereka dituntut untuk memiliki ijazah minimal SMU/Sederajat.Maka dari itu Program Pendidikan Paket C adalah solusi bagi mereka agar tetap bisa bekerja di tempatnya semula dan tidak diganti oleh pekerja lainnya yang lebih memenuhi syarat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

E. Bagan/Stastitik Orang yang Mengikuti Sekolah Paket C

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pencapaian Paket C Tahun 2004 – 2009 Program

Indikator Kinerja

2004

%

2005

%

2006

%

2007

%

2008
%

2009

%

Disparitas APK antara Kabupaten dan Kota(%)

 

6,04

5,42

4,37

4,2

3,61

3

SMA/SMK/ MA/SMALB/ Paket C

APK(%)

49,01

52,2

56,22

60,51

64,28

68,20

Disparitas APK antara Kabupaten dan Kota(%)

 

33,13

33,13

31,44

31,2

29,97

29,20

Rerata Nilai UN

 

5,31

6,52

7,33

7,14

7,17

 

 

Sumber Balitbang Kementrrian Pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

F. Kebijakan Pemerintah Dalam Sekolah Paket C

Kebijakan yang terdapat dalam UUD 1945

Secara umum kebijakan pemerintah tertuang dalam UUD 1945 yaitu pasal 28 huruf c, e; dan pasal 31. Bunyi

F.a. Pasal 28 huruf c :

Pasal 28 huruf c adalah sebagai berikut.Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia

F.b. Pasal 28 huruf e :

Pasal 28 huruf e disebutkan sebagai berikut.Setiap orang bebas memeluk agama, dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

F.c. Pasal 31 UUD 1945 :

Pasal 31 UUD 1945 dikatakan sebagai berikut.

Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan.

Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional.

Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-jkurangnya 20% dari APBN

Pemerintah memajukan Ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia

Dari beberapa pasal di atas, tampak jelas bahwa pendidikan merupakan bidang yang sangat penting dan diutamakan dalam pembangunan. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, bahkan menjadi suatu kewajiban terutama pendidikan dasar. Sebagai konsekuensinya pemerintah wajib pula membiayainya dengan anggaran yang diprioritaskan. Selain pembiayaan pemerintah melakukan program-program atau kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan pendidikan baik mutu maupun jumlah dengan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi . Sehingga apapun bentuknya akan dilakukan oleh pemerintah guna meningkatkan parsisipasi belajar peserta didik asal sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan. Dengan adanya komitmen pemerintah, diharapkan masyarakat atau warga akan mendapatkan kesempatan belajar.

Selain dalam UUD 1945, kebijakan-kebijakan yang bersifat umum juga terdapat dalam program-program pembangunan. Sebelum era reformasi kebijakan pembangunan tertuang dalam GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara) atau dalam Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Namun setelah itu kebijakan pembangunan tidak lagi tertuang dalam GBHN dan Repelita, melainkan tertuang dalam Program Pembangunan Nasional (Propenas). Dalam pembahasan ini ada dua Program Pembangunan Nasional Tahun (1999-2004) dan Program Pembangunan Nasional Tahun (2004-2009)

11

BAB III

Metode

  1. Metode Pengumpulan Data

Data dari tugas makalah ini saya peroleh melalui 2 jalan yaitu dengan cara wawancara atau menemui narasumber dan yang kedua dengan mencari data melalui internet dan membaca buku.

  1. Tempat Data Berasal

Narasumber :

  1. Ermawati : Penanggung jawab PKBM Taman Krida Dewasa Punten,Batu

  2. Indah Lusiana : Alumni/lulusan Sekolah Paket C tahun 2009

  3. Slamet Winarto : Warga belajar Sekolah Paket C Ponpes Al-Furqon Bumiaji,Batu

Buku :

  1. Kebijakan-kebijakan Pendidikan di Indonesia

  2. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan

  3. Rp 90 Miliar untuk Program SMA Terbuka

  4. Perkembangan Siaran Televisi Pendidikan

  5. Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran

Data Internet:

  1. http://wwwalfiyahyuniarti.blogspot.com/2009/05/keikutsertaan-warga-belajar-pada.html

  2. http://dealerkia.com/mobil/iklanlintasbatas-sekolah-program-kejar-paket-c-setara-sma.html

  3. http://dealerkia.com/mobil/kejar-paket-c-sekolah-program-kejar-paket-c-setara-sma.html

  4. http://tokay.blog.uns.ac.id/2010/01/10/home-schooling-sebagai-alternatif-pembelajaran-formal-boy/

  5. http://tubanonline.wordpress.com/tag/pendidikan/

  6. http://www.bpplsp-reg-1.go.id/read.php?id=64&u=15

  7. http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=10&ved=0CFAQFjAJ&url=http%3A%2F%2Fwww.stiabinabanua.ac.id%2Fdwn%2Fevaluasi%2520realiasi.doc&rct=j&q=Pembahasan%20Orang%20yang%20Mengikuti%20Sekolah%20Paket%20C&ei=n_wvTbjHIc7rrQeUyOHBCA&usg=AFQjCNFyRupGRrWBXAkZK52QR_Gir8Phzg&cad=rja

  8. http://edukasi.kompasiana.com/2010/09/29/dunia-pendidikan-alternatif-dan-homeschooling/

  9. http://dealerkia.com/mobil/kejar-paket-c-banyak-yang-putus-sekolah-kejar-paket-c.html

  10. http://elowonganpekerjaan.com/job/sekolah-paket-c-di-surabaya.html

  11. http://jabaronline.com/berita-kota/karawang/ratusan-warga-karawang-ikuti-ujian-paket-c/

  12. http://pls-pkbm.blogspot.com/2009/02/lulusan-paket-c-memiliki-hak.html

  13. http://deteksi.info/2009/11/kejar-paket-c-di-surabaya/

  14. http://www.rakyataceh.com/index.php?open=view&newsid=17713&tit=Banda%20Aceh%20-%20%20Warga%20Putus%20Sekolah%20Ikut%20Ujian%20Paket%20C

13

  1. Pembahasan

Pendidikan Kesetaraan merupakan pendidikan nonformal yang mencakup program Paket A setara SD/MI, Paket B setara SMP/IMTs, dan Paket C setara SMA/MA dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional, serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional peserta didik. Setiap peserta didik yang lulus ujian kesetaraan Paket A, Paket B, atau Paket C mempunyai hak eligibilitas yang sama dan setara dengan pemegang ijazah SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA untuk dapat mendaftar pada satuan pendidikan yang lebih tinggi. Status kelulusan Paket C mempunyai hak eligibilitas yang setara dengan pendidikan formal dalam memasuki lapangan kerja. hasil pendidikan nonformal dapat sihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

Sekolah paket C memang selalu di bawah sekolah-sekolah SMA formal.Karena dilihat dan lama pendidikannya sekolah formal hingga 3 tahun,sedangkan sekolah paket C ini,2 tahun adalah masa paling lama bahkan ada yang hanya 6 bulan pembelajaran sudah bisa mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK).Sekolah Paket C ini diharapkan tidak menjadi pilihan utama bagi siswa-siswi pelajar SMU.Jika tidak ada factor-faktor yang menghalangi,lebih baik meneruskan di SMU formal.Karena pengetahuan dan pendidikan yang di peroleh tidak dapat dibandingkan dengan dari sekolah-sekolah paket C.

 

Kegunaan dari Sekolah Paket C itu sendiri sebenarnya adalah untuk masyarakat di

atas usia sekolah.Untuk mereka yang terhalang oleh beberapa factor sehingga Sekolah Paket C adalah alternatifnya.Walaupun usianya masih usia sekolah namun bila persyaratan masuk SMU tidak terpenuhi,Sekolah Paket C memang pilihan yang tepat.Karena sekolah ini betujuan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat luas tanpa membebani masyarakatnya.

15

Setiap orang yang melakukan sesuatu hal tentu didasari dengan sebuah alasan.Contoh paling sederhana misalanya,seseorang makan dengan alasan agar tidak lapar atau agar kuat menjalani aktifitas.Begitu pula dengan mengikuti Progam Pendidikan Kesetaraan Paket C.Alasan tiap orang belum tentu sama.Salah satunya adalah tuntutan perusahaan yang mewajibkan setiap pengawainya adalah lulusan SMA/MA sederajat.

Ada dua faktor yang menjadi alasan bagi seseorang untuk mengikuti pendidikan kesetaraan paket C yaitu faktor internal dan faktor eksternal.Faktor internal adalah faktor yang mempengaruhi dari dalam Sedangkan faktor kedua adalah faktor eksternal.Faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi dari luar.

Adapun kebijakan pemerintah dalam Sekolah Paket C ini antara lain :

  1. .Setiap orang bebas memilih pendidikan dan pengajaran,

  2. Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan.

  3. Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

  4. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional.

  5. pasal 28 huruf c dan huruf e

  6. pasal 31 UUD 1945

  7. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-jkurangnya 20% dari APBN

16

BAB IV

Penutup

A. Kesimpulan

Dari uraian-uraian sebelumnya dapat ditarik kesimpulan bahwa Program Pendidikan Kesetaraan Paket C merupakan pendidikan non formal dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan,keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional para peserta didik(warga belajar Paket C).

Pendidikan kesetaraan itu sendiri diperuntukkan bagi warga masyarakat yang terkendala masuk jalur formal karena bermacam alasan misalnya:

  1. Ekonomi terbatas

  2. Waktu terbatas

  3. Geografis(jauh dari pusat/terasing)

Fungsi utamanya adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya.Karena dengan pendidikan yang tinggi seseorang tidak akan sulit mendapatkan pekerjaan apa yang diinginkan sehingga taraf hidup meningkat.

 

 

 

 

 

 

 

 

17

B. Saran

Progam pendidikan paket c seperti ini memang akan mengalami berbagai hambatan.Saran saya agar progam ini berjalan dengan baik antara lain

  1. Pemerintah selalu dan terus menberikan penyuluhan-penyuluhan tentang pentingnya pendidikan

  2. Melakukan pengenalan kepada masyakat terpencil tentang apa dan bagaimana progam pendidikan kesetaraan paket C

  3. Menyediakan tempat dan fasilitas yang baik layaknya sekolah formal pada umunnya

  4. Menberikan kepastian bahwa warga belajar paket C mendapat perlakuan yang setara dengan siswa sekolah formal lain sehingga warga belajarnya tidak merasa usaha mereka sia-sia

18

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Ary H. 1986. Kebijakan-kebijakan Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Bina Aksara, Jakarta: Bina Aksara.

Miaso, Yusufhadi. 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Rachmawati, Rina. 2008. Rp 90 Miliar untuk Program SMA Terbuka, Jakarta: Kencana Predana Media Group

Siahaan, Sudirman. 2008. Perkembangan Siaran Televisi Pendidikan, Jakarta.

Tabrani, A. Rusyan, dkk. 1988. Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran, Bandung:Remadja Karya CV.

19

Lampiran-Lampiran

Belajar merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas kehidupan seseorang. Oleh karena itu kesempatan  belajar seharusnya dapat dimiliki oleh siapapun, di manapun dan kapanpun. Konsep pendidikan sepanjang hayat (life-long education) dan pendidikan untuk semua (education for all) yang dicetuskan oleh UNESCO merupakan suatu gagasan yang harus dapat diwujudkan di Indonesia.  Namun upaya ke arah itu ternyata masih banyak menemui kendala.  Hingga saat ini problem pemerataan kesempatan belajar masih menjadi masalah besar dalam dunia pendidikan  di Indonesia.    

 Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah,misalnya melalui pembangunan gedung sekolah baru, peningkatan daya tampung pada sekolah-sekolah yang telah ada,  penambahan fasilitas belajar,pengadaan dan pengangkatan tenaga guru,pemberian beasiswa,dan lain-lain.Namun upaya itu ternyata belum dapat mengatasi masalah pemerataan pendidikan secara tuntas.Masih banyak warga masyarakat yang belum dapat terjangkau oleh layanan pendidikan, terutama sebagian masyarakat yang memiliki berbagai macam kendala tertentu.Pembangunan gedung sekolah  baru yang dilakukan setiap tahun misalnya, belum  dapat menjangkau kelompok masyarakat ekonomi lemah yang tinggal di daerah-daerah terpencil.Bagi masyarakat yang memiliki kendala  ekonomi, waktu dan geografis masih  sulit untuk memperoleh layanan pendidikan  melalui jalur pendidikan  reguler/ konvensional.Padahal sebagai sesama anak bangsa, mereka memiliki hak yang sama dengan anak-anak lain yang lebih beruntung memperoleh pendidikan,sebagaimana dijamin oleh pasal 31 Undang-undang Dasar 1945.  Dalam wilayah negara Indonesia yang luas dengan karakteristik geografis dan demografis yang begitu beragam,sangat sulit memberikan layanan pendidikan yang dapat menjangkau seluruh masyarakat terutama   anak-anak yang memiliki berbagai kendala ekonomi,geografis dan waktu.Bahkan sekalipun di lokasi-lokasi seperti itu dibangun sekolah reguler,belum tentu kelompok anak  yang memiliki kendala tersebut sempat mengikuti pendidikan karena kesibukannya bekerja membantu orang tua mencari nafkah.Bagi kelompok anak seperti ini, pergi ke sekolah setiap hari dengan segala konsekwensinya,merupakan kegiatan yang dianggap terlalu mahal.Anak-anak tersebut berada di luar jangkauan pendidikan konvensional.Oleh  karena itu,perlu  adanya alternatif program pendidikan non-konvensional untuk  dapat menjangkau mereka. Sistem pendidikan terbuka dan sistem pendidikan jarak jauh  dapat dijadikan alternatif untuk memberikan layanan pendidikan bagi kelompok anak yang memiliki kendala semacam itu. Untuk pendidikan tingkat SMA,salah satu bentuk pendidikan terbuka  yang telah dilaksanakan saat ini adalah Sekolah Menengah Atas Terbuka (SMA Terbuka).  Saat ini SMA Terbuka telah menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan di Indonesia.Sistem pendidikan  jarak jauh (termasuk juga SMA Terbuka), menurut Suparman dan Zuhairi,telah ditempatkan sebagai sistem pendidikan yang bersifat komplementer terhadap sistem pendidikan biasa. Ini berarti   tanpa kehadirannya,  dunia pendidikan menjadi tidak lengkap, karena akan terdapat sejumlah orang yang dengan cara apapun tidak dapat mengikuti pendidikan.Bahkan, lebih tegas Miarso memandang bahwa SMA Terbuka bukan sekedar merupakan pendidikan komplementer atau suplementer, melainkan sebagai pendidikan kompensatorik yang  bisa menjadi pengganti yang statusnya paralel  terhadap lembaga pendidikan yang telah ada.Jadi,adalah sangat beralasan jika akhirnya pemerintah Indonesia menetapkan SMA Terbuka sebagai salah satu alternatif dalam mengatasi masalah perluasan kesempatan belajar.Pada aspek yang lain, dipilihnya SMA Terbuka untuk mengatasi masalah pemerataan pendidikan karena adanya beberapa pertimbangan.Sebagaimana dikemukakan oleh Sadiman, Seligman dan Raharjo, SMA Terbuka ini dipilih   karena sistem ini  segera dapat dilaksanakan tanpa resiko merosotnya mutu pendidikan.SMA Terbuka memerlukan biaya yang relatif lebih murah dibanding sistem konvensional karena pelaksanaannya dapat memanfaatkan sumber-sumber yang telah ada.SMA Terbuka telah dirintis  sejak tahun 1979 pada lima lokasi sekolah rintisan. SMA Terbuka diharapkan dapat menjangkau anak-anak usia SMA  yang tidak dapat mengikuti pendidikan di SMA biasa. Penyelenggaraan SMA Terbuka merupakan   salah satu bentuk aplikasi konsep teknologi pendidikan untuk mengatasi masalah perluasan kesempatan  belajar.Melalui SMA Terbuka diupayakan agar siswa dapat melaksanakan kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pebelajar.Sistem SMA Terbuka berupaya untuk menjangkau anak-anak yang berkendala agar bisa belajar, dengan cara membentuk beberapa Tempat Kegiatan Belajar (TKB) yang berlokasi di sekitar tempat tinggal siswa.Jadi,bukan siswa yang dituntut harus datang ke sekolah setiap hari,  melainkan  “membawa”  sekolah atau sumber belajar ke lingkungan  siswa.Sebagaimana sistem pendidikan terbuka pada umumnya,kegiatan belajar di SMA Terbuka  menerapkan prinsip-prinsip  belajar mandiri.  Sistem pembelajaran SMA Terbuka didesain sedemikian rupa sehingga  siswa dapat belajar  secara mandiri dengan bantuan terbatas dari orang lain.Sebagian besar kegiatan belajar di SMA Terbuka dilakukan siswa secara mandiri.Dalam kegiatan belajar, siswa  tidak selalu tergantung kepada guru, karena memang tidak setiap hari  mereka dapat bertatap muka dengan guru seperti halnya pada sekolah konvensional.Siswa SMA Terbuka dapat belajar pada waktu dan tempat yang diatur sesuai kondisi  siswa.Dengan cara demikian, maka anak-anak yang bermasalah tersebut akan terbuka kesempatannya untuk bersekolah. Sistem pembelajaran mandiri sebagaimana diterapkan di SMA Terbuka  masih dirasakan sebagai sesuatu yang baru bagi sebagian besar anak seusia SMA.Selama di Sekolah Dasar dan SMP siswa telah terbiasa belajar dengan cara konvensional (tatap muka) yang sangat tergantung pada  guru kelas.Kemudian,ketika  belajar di SMA Terbuka,mereka dituntut untuk dapat  belajar secara mandiri.Dalam hal demikian,maka kemandirian belajar siswa  menjadi  faktor yang amat menentukan  bagi keberhasilan belajar di SMA Terbuka.Oleh karena itu kemandirian belajar siswa perlu mendapat perhatian serius agar setiap  siswa SMA Terbuka  berhasil dalam mengikuti kegiatan belajar di SMA Terbuka.Untuk mengembangkan kemandirian belajar pada siswa SMA Terbuka, perlu  dikaji karakteristik atau kondisi riil yang ada pada diri siswa.  Siswa SMA Terbuka mempunyai karakteristik  umum yang relatif berbeda dengan siswa sekolah biasa.Sebagian besar siswa SMA Terbuka berasal dari keluarga sosial ekonomi rendah, dari daerah pedesaan dan dari wilayah yang lebih terpencar.Kondisi mereka kurang menguntungkan dibanding dengan latar belakang siswa sekolah reguler.Hal ini tentu dapat dimaklumi, karena sesuai misinya, SMA Terbuka memang untuk melayani  anak-anak  tamatan SMP/MTS  yang kurang beruntung karena keadaan sosial ekonomi, keterbatasan fasilitas transportasi, kondisi geografis, atau kendala waktu, sehingga tidak memungkinkan mereka mengikuti pelajaran sebagai siswa SMA reguler.Kondisi siswa SMA Terbuka semacam itu tentu saja akan berdampak pada  kondisi psikologis anak, termasuk dalam hal pembentukan   konsep dirinya.  Kondisi konsep diri siswa SMA Terbuka dengan latar belakang sosial seperti itu sangat menarik untuk dikaji secara mendalam.Mungkin saja kondisi siswa yang kurang menguntungkan itu berdampak negatif terhadap   konsep diri mereka, atau barangkali justru sebaliknya. Kemudian, perlu pula dikaji lebih jauh, apakah mungkin kondisi konsep diri tersebut berhubungan dengan tingkat kemandirian belajar merekaSementara itu, kehadiran lembaga pendidikan terbuka dalam sistem pendidikan kita masih belum dikenal secara luas, terutama bagi kalangan masyarakat awam.Pandangan  masyarakat terhadap keberadaan SMA Terbuka tentu saja beragam, ada yang positip ada pula yang sebaliknya.Bahkan masih  banyak pula warga  masyarakat   mempunyai pandangan keliru terhadap sistem pendidikan terbuka semacam ini.Hasil penelitian Supriadi menggambarkan  adanya   kesan yang cukup kuat di masyarakat bahwa status dan prestise siswa SMA Terbuka  dinilai lebih rendah daripada siswa SMA reguler.Hal ini mungkin saja terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap sistem pendidikan terbuka.Beragamnya sikap terhadap SMA Terbuka bahkan mungkin juga  terjadi pada siswa-siswa  SMA Terbuka itu sendiri. Sejauh ini, masih sulit menemukan informasi aktual yang dapat menjelaskan  bagaimana sebenarnya sikap siswa SMA Terbuka terhadap sistem pendidikan terbuka yang mereka ikuti.Apakah mereka belajar di SMA Terbuka hanya karena terpaksa, daripada tidak sekolah, atau memang mereka memiliki pandangan dan   penilaian  tertentu terhadap SMA Terbuka.Seiring dengan perkembangan SMA Terbuka yang saat ini telah tersebar di seluruh Indonesia, makin banyak pula fenomena  yang bisa diamati terhadap penyelenggaraan SMA Terbuka.Oleh karena itu,   mengkaji sikap para siswa terhadap SMA Terbuka  adalah menjadi penting dan menarik.Berhubung  SMA Terbuka menerapkan sistem pembelajaran mandiri, maka upaya meningkatkan kemandirian belajar  siswa merupakan sesuatu yang amat penting.Sebab tanpa adanya kemandirian belajar  yang memadai, proses  pembelajaran di SMA Terbuka tidak akan dapat mencapai hasil seperti yang diharapkan.Bahkan, menurut Lewis dan Spencer, salah satu ciri yang paling pokok dalam sistem pendidikan terbuka adalah adanya komitmen untuk membantu siswa agar memiliki kemandirian belajar.

23

 

pencapaian Paket C Tahun 2004 – 2009 Program

Indikator Kinerja

2004

%

2005

%

2006

%

2007

%

2008
%

2009

%

Disparitas APK antara Kabupaten dan Kota(%)

 

6,04

5,42

4,37

4,2

3,61

3

SMA/SMK/ MA/SMALB/ Paket C

APK(%)

49,01

52,2

56,22

60,51

64,28

68,20

Disparitas APK antara Kabupaten dan Kota(%)

 

33,13

33,13

31,44

31,2

29,97

29,20

Rerata Nilai UN

 

5,31

6,52

7,33

7,14

7,17

 

 

24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s